Home / BUDAYA / Uang Bukanlah Segala-Galanya Dalam Hidup Ini

Uang Bukanlah Segala-Galanya Dalam Hidup Ini

Bangun Lubis

Bangun Lubis

Harta atau uang itulah fitnah dunia yang sangat sering berhasil mengecoh manusia. Parahnya, banyak orang masih bisa kalah oleh fitnah uang ini. Bukan berarti meniadakan arti uang, tapi bukan segala-galanya dalam mengharungi hidup ini.

Permasalahan harta menjadi semacam lingkaran setan yang tidak berujung. Dibidang apapun kita berada, pelanggaran hak dan egoisme pribadi untuk mendapat uang lebih banyak selalu saja terjadi. Padahal, apa yang diajarkan Rasulullah sangatlah jauh dari semua itu. Benarkah? Memang bagaimana Rasulullah mengajarkan??

Sudah selayaknya, demikian kutipan pada sebuah buku tentang harta yang menyesatkan karangan Arfan M Alwy, menjelaskan bagaimana kita sebagai umat Islam bersyukur karena Allah telah menurunkan seorang teladan (Rasul) yang sangat baik hingga tidak ada dosa dalam dirinya. Seorang teladan dari kalangan manusia. Memiliki unsur yang sama, jasad, ruh, dan akal. Apalagi yang masih membuat kita ragu untuk meniru beliau??

Pada sisi lain, beberapa LSM sebagimana yang di beritakan oleh sejumlah media di Indonesia, mencoba menjelaskan beberapa alasan kenapa masih banyak anak-anak jalanan yang mengamen dan mengemis padahal seharusnya mereka bisa melakukan hal yang jauh lebih bermanfaat. Dua alasan utama adalah karena mereka menganggap mengamen, mengemis, bahkan mencuri bisa mendatangkan uang bagi mereka daripada harus pusing belajar.

Kalau dapat uang, bisa makan enak, beli baju bagus, dan lain sebagainya. Alasan lainnya adalah karena kondisi keluarga yang sama sekali tidak mendukung mereka untuk meraih pendidikan, atau melakukan pekerjaan lain yg lebih baik, meski hasilnya kecil.

Selalu saja masalah uang yang menjadi ujung pangkalnya. Mari kita lihat bagaimana kondisi Rasulullah dan keluarganya.

Ibnu Sabiq pernah merinci sifat zuhud Rasulullah. Suatu ketika Umar bin khattab r.a melihat Rasulullah sedang tidur di atas selembar tikar yang sudah usang dan tubuh beliau terkena bekas garir-garisnya.  Umar lalu menangis, kemudian Rasululloh bertanya,”mengapa engkau menangis?”

Umar berkata, “Bagaimana keadaan Kisra (Maharaja Persi) dan Kaisar (Maharaja Romawi), tidur di atas sutra tebal dan tipis, sedangkan Tuan sebagai rasul Allah, sampai membekas di lambung Tuan hamparan tikar itu“. Rasulullah lalu menjawab,”Hai Umar, tidakkah engkau rela jikalau dunia ini mereka yang memilikinya, sedangkan kita akan memiliki akhirat“.

Tidak hanya untuk beliau saja sikap bijak terhadap harta dunia ini beliau ajarkan, namun juga terhadap istri dan anak-anaknya. Ingatkah kita tentang cerita Fatimah yang ingin memiliki seorang pembantu dirumahnya?

Fatimah, putri Rasulullah hidup serba kekurangan saat sudah berkeluarga dengan Ali. Ia tidak memiliki pembantu padahal pekerjaannya sehari-hari cukup melelahkan. Ia harus menggiling gandum hingga tangannya melepuh, mengambil air dengan geriba hingga dadanya sakit, dan beberapa pekerjaan lain.

Hal ini membuat sang suami terenyuh dan akhirnya menyarankan Fatimah untuk meminta salah seorang tawanan perang Rasulullah untuk dijadikan pembantu. Ketika Rasulullah selesai berperang dan membawa banyak tawanan, Fatimah pun memberanikan diri untuk memintanya kepada Sang Ayah.

Akan tetapi Rasulullah dengan tegas menjawab, “Demi Alloh aku tidak akan memberikan seorang pelayan pun kepada kalian berdua karena aku tidak mau membiarkan ahli suffah (orang2 fakir yang tinggal di Serambi Masjid Nabawi) melipat perutnya karena lapar…” (shahih bukhari). Padahal kita tahu, Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah.(*)

 

Print Friendly, PDF & Email

About Mahadaya Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful