Home / OPINI / Lebih Dekat Masyarakat Belida Di Kecamatan Tanah Abang

Lebih Dekat Masyarakat Belida Di Kecamatan Tanah Abang

Darmin Dirgantara Mahasiswa

Oleh : Darmin Dirgantara ( Mahasiswa )

Aku tinggal dan lahir disebuah Desa kecil yang terletak dipelosok pulau Sumatera.sebuah Desa kecil yang diberi nama oleh para petuah-petuahku“Tanjung Dalam”masyarakat desaku berasal dari suku “BELIDA”yang juga dikategorikan sebagai suku yang berpenggaruh besar diantara beberapa suku lainnya yang ada diwilayah Sumatera Selatan.Seperti halnya Suku Komering,Suku Rambang dan masih banyak Suku lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu.

Jika dilihat dari letak Geografis dan Administratifnya desaku berada di kawasan Kecamatan Tanah Abang,salah satu Kecamatan yang ada di kawasan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir tetapi orang-orang sering menyebutnya (PALI).

Masyarakat di Kecamatan Tanah Abang rata-rata berprofesi sebagai Petani,Pekebun Karet,dan juga ada sebagian Nelayan.Khususnya masyarakat yang ada di desa ku karena hanya dengan bertani dan berkebun orang-orang disana dapat menyekolahkan anak-anak mereka bahkan sampai Keperguruan Tinggi.

Tentang Pendidikan di Kecamatan Tanah Abang ini sudah lumayan memadai karena baik dari Sekolah Dasar,Sekolah Menenggah Pertama,dan Sekolah Menenggah Atas sudah ada dan bahkan juga didekat desa tempat tinggalku juga sudah ada Pondok Pesantren “Pondok Pesantren Al-Rozi”yang dikenal oleh orang-orang disana sebagai Pondok Pesantren yang terbilang paling tua yang berada di Kabupaten ini .Menggapa saya katakan sebagai Pondok Pesantren yang paling tua di Kabupaten kami karena,Tahun diresmikan berdirinya adalah pada tahun 2004 bahkan sebelum Kabupaten kami menjadi DOB (Daerah Otonomi Baru) yang mana dari hasil pemekaran dari Kabupaten Muara Enim yang disahkan tanggal 11 januari 2013 melalui UU no 7 tahun 2013.
Kecamatan Tanah abang juga dikenal sebagai Kecamatan yang warganya bermukim dibantaran Sungai Lematang,tak heran jika orang-orang yang datang dari luar Daerah sering menyebut kami “Urang Lematang”alasannya karena pemukim warganya terletak dibantaran Sungai Lematang,tak hanya itu saja Warga Kecamatan Tanah Abang juga dikenal oleh orang-orang sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang dikenal sebagai“Budaya Lematang”.Begitulah orang-orang sering menyebutnya terhadap kami warga yang tinggal dibantaran Sungai Lematang.Sewaktu saya kecil belum termakan olehku menggenai hal yang ganjil semacam itu, menggapa orang-orang yang datang dari luar selalu menyebut kami begitu padahal dilihat dari sudut pandang Universal tidak semua Penduduk yang bermukim dibantaran Sungai lematang khususnya kecamatan tanah abang Sukunya juga termasuk Suku “Lematang”pada umumnya.Karena salah satunya adalah masyarakat didesaku sangat jelas bahwa seperti yang dijelaskan diawal tadi bahwa masyarakat desaku Sukunya bukan Suku Lematang,tetapi Suku Belida karena Nenek Moyang kami aslinya berasal dari Suku Belida,dan oleh karena itulah Desa kami dikenal sebagai salah satu dari dua Desa yang berada dalam Wiliyah Administratif Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI),yang Masyarakatnya dikenal sebagai Suku Belida.
Dan tidak hanya itu saja yang menarik dari Desaku menggenai Adat-Budayanya juga yang menurutku menarik serta ganjil rasanya.Karena jika dilihat dari Segi Budaya,Adat Istiadat serta kebiasaan didesaku,rata-rata semuanya sudah menggikuti Adat-Budaya Suku Lematang pada umumnya,hanya saja dalam segi Bahasa yang masih berlainan karena,dalam Segi Bahasa kami tetap dengan ciri khas kami tersendiri sebagai Suku Belida pada umumnya yang menggunakan Bahasa Belida sebagai Bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Menggapa saya katakan sangat menarik dan ganjil,karena jika dilihat dari Sudut Pandang Universal tidaklah Logis,jika didesaku menggenai Adat-Istiadat dan Budayanya menggikuti Adat dan Budaya Suku “Lematang”pada umumnya.Karena,jika dilihat dari sudut pandang kesukuan dan budayaanya,antara Adat-Istiadat dan Kebudayaan suku “Lematang” maupun Suku “Belida” pada umumnya ada perbedaan .

Salah satunya yaitu Sedekah Adat (Sedekah Apem). Yang mana dalam setiap Keluarga diminta partisipasinya untuk membuat Apem Kuah, kemudian seluruh Apem Kuah yang telah dibuat oleh seluruh Warga Desa akan dikumpulkan di Balai Desa, dilanjutkan dengan acara baca doa bersama sebagai tanda syukur Kepada Allah. Setelah acara doa bersama, apem kuah dibagikan ke seluruh Warga Desa untuk disantap bersama-sama.

Selain itu ada juga ada yang namanya Sedekah Ketupat. Acara sedekah ini diminta partisipasi setiap keluarga untuk membuat Ketupat yang terbuat dari daun rumbai/daun pandan dengan beberapa bentuk yang beragam. Setelah itu ketupat dikumpulkan di balai desa serta diadakan acara doa bersama sebagai tanda syukur kepada Allah, lalu ketupat tersebut dimakan bersama-sama seluruh warga desa. Setelah acara, kulit-kulit bekas ketupat akan digantungkan di setiap pintu rumah warga desa. Tapi seiring berkembangnya zaman semua adat istiadat itu hanya tinggal kenanggan belaka saja terkhusus didesaku karena seingatku waktu saya masih kecil acara adat seperti itu pernah beberapa kali dilakukan didesaku tetapi setelah 10 tahun belakangan hal semacam itu sudah menjadi kenangan belaka saja.

Tetapi jika dilihat dari sudut pandang letak geografisnya sedikit masuk akal jika dalam pemakaian adat-istiadat dan budayanya sama seperti suku lematang pada umumnya,karena entitas pemukiman penduduknya memang terletak dipinggir bantaran sungai lematang,dan mungkin itulah penyebab relative yang memepenggaruhi peradabannya.Tetapi yang menjadi pertanyannya adalah apa benar ruang dan waktulah yang mempenggaruhi adat-istiadat,kebiasaan dan budaya suatu kelompok individu (masyarakat) tertentu? Ya,jika kita melihat dari fenomena yang terjadi pada masyarakat desaku (Tanjung Dalam) sangatlah logis dan relevan jika kita katakan bahwa ruang dan waktulah yang mempenggaruhi kebiasaan,adat-istiadat dan budaya suatu kelompok individu (masyarakat) pada suatu wiliyah tertentu. Tetapi,menurut pendapatku selain dari faktor ruang dan waktu yang mempenggaruhi peradabaan manusia itu (Penulis Mahasiswa Perguruan tinggi Prabumulih )

Print Friendly, PDF & Email

About Mahadaya Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful